Dalam industri manufaktur maupun jasa, pengambil keputusan sering
kali dihadapkan suatu permasalah yang kompleks. Salah satu permasalahan
yang tersebut adalah masalah menentukan pilihan dari beberapa kandidat
atau sekadar mengurutkan prioritas dari beberapa kandidat. Contoh-contoh
dalam industri manufaktur termasuk pemilihan supplier, pemilihan
pembelian mesin, pemilihan lokasi pabrik, dan lain-lain. Sedangkan
contoh-contoh dalam industri jasa seperti pemilihan kendaraan logistik,
pemilihan pekerjaan konsultan, pemilihan rute pelayanan, dan-lain.
Permasalahan pengambilan keputusan dapat menjadi kompleks karena adanya pelibatan beberapa tujuan maupun kriteria. Salah satu tool (alat bantu) yang cocok digunakan untuk pemilihan kandidat atau pengurutan prioritas adalah Analytic Hierarchy Process
(AHP) yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Secara spesifik, AHP
cocok digunakan untuk permasalahaan pemilihan kandidat ataupun
pengurutan prioritas yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
- Melibatkan kriteria-kriteria kualitatif yang sulit dikuantitatifkan secara eksak.
- Masing-masing kriteria dapat memiliki sub-sub kriteria yang dapat dibentuk seperti hirarki
- Penilaian dapat dilakukan oleh satu atau beberapa pengambil keputusan secara sekaligus
- Kandidat pilihan sudah tertentu dan terbatas jumlahnya
Apabila suatu permasalahan pengambilan keputusan ingin diselesaikan
dengan metode AHP, permasalahan tersebut perlu dimodelkan sebagai tiga
hirarki umum, yakni tujuan, kriteria (termasuk sub-kriteria di
bawahnya), dan alternatif. Sebagai contoh, misalnya seorang manajer
dihadapkan permasalahan untuk memilih armada logistik yang paling
sesuai. Permasalahan ini dapat dimodelkan seperti model hirarki AHP di
bawah.
Dalam model di atas, terlihat ada beberapa level/baris yang membentuk
sebuah hirarki. Level bagian atas adalah untuk merepresentasikan
tujuan. Dua level di bawahnya merupakan level kriteria dan sub-kriteria.
Sedangkan level paling bawah menunjukkan kandidat-kandidat yang akan
dipertimbangkan untuk dipilih.Konsep dasar dari AHP adalah penggunaan pairwise comparison matrix (matriks perbandingan berpasangan) untuk menghasilkan bobot relatif antar kriteria maupun alternatif. Suatu kriteria akan dibandingkan dengan kriteria lainnya dalam hal seberapa penting terhadap pencapaian tujuan di atasnya. Sebagai contoh, kriteria spesifikasi dan kriteria biaya akan dibandingkan seberapa pentingnya dalam hal memilih armada transportasi. Begitu juga untuk alternatif. Kendaraan A, B, dan C akan dibandingkan secara berpasangan (dan akan dibentuk matriks) dalam hal sub-kriteria biaya pemeliharaan misalnya.
Nilai-nilai yang disarankan untuk membuat matriks perbandingan berpasangan adalah sebagai berikut:
- 1 : sama penting (equal)
- 3 : lebih penting sedikit (slightly)
- 5 : lebih penting secara kuat (strongly)
- 7 : lebih penting secara sangat kuat (very strong)
- 9 : lebih penting secara ekstrim (extreme)
Matriks perbandingan berpasangan tersebut harus dibuat tiap level yang memiliki hirarki atasan yang sama. Sebagai contoh pada hirarki sebelumnya, kita harus membuat matriks perbandingan berpasangan untuk sub-kriteria kapasitas angkut dan sub-kriteria ketersediaan suku cadang terhadap kriteria spesifikasi, matriks perbandingan berpasangan antara sub-kriteria biaya pembelian, biaya pemeliharaan dan biaya perton mileage terhadap kriteria biaya, dan seterusnya.
Dalam membuat matriks berpasangan, kita hanya perlu menentukan matriks segitiga atas saja karena matriks segitiga bawah hanyalah nilai reprisokal dari matriks segitiga atas. Selain itu, nilai-nilai diagonal pada matriks perbandingan berpasangan adalah satu (karena setiap item dibandingkan dengan dirinya sendiri). Dengan demikian, apabila kita ingin membuat matriks perbandingan berpasangan dengan jumlah n item, maka kita hanya perlu membuat perbandingan sejumlah n(n-1)/2.
Jika semua matriks perbandingan berpasangan sudah dikumpulkan, kita dapat menghasilkan bobot prioritas akhir dari kandidat pilihan. Langkah pertama adalah setiap matriks perbandingan berpasangan perlu dicari bobot absolut masing-masing item. Setelah itu, bobot prioritas akhir didapat dengan mengkalikan bobot absolut alternatif dengan bobot-bobot kriteria dan sub-kriteria di atasnya. Kemudian, bobot prioritas akhir ini dapat dijadikan sebagai acuan pemilihan kandidat ataupun pengurutan kepentingan kandidat pilihan.
Dalam tulisan ini, saya akan berbagi sebuah template excel yang dapat digunakan untuk menghasilkan bobot absolut dari sebuah matriks perbandingan berpasangan. Sebagai contoh, kita mempunyai matriks perbandingan berpasangan dengan lima item sebagai berikut:
Sebagai tambahan, indeks consistency ratio menunjukkan rasio
kekonsistenan matriks perbandingan berpasangan tersebut. Suatu matriks
perbandingan berpasangan dianggap tidak konsisten (tidak dibuat dengan
baik) apabilai nilai indeks rasio tersebut lebih dari 0.1. Selain itu,
sebaiknya kita tidak membandingkan lebih dari tujuh item sekaligus dalam
sebuah matriks perbandingan berpasangan. Hal ini dikarenakan nilai consistency ratio tidak cukup menggambarkan tingkat kekonsistenan matriks tersebut ketika jumlah item lebih dari tujuh.
Berikut adalah tampilan dari template tersebut.
Berikut adalah tampilan dari template tersebut.
Kemudian dengan meng-klik tombol yang tersedia, kita akan mendapatkan consistency ratio maupun bobot masing-masing item seperti tampilan di bawah.

Cara perhitungan yang saya gunakan dalam template excel tersebut adalah menggunakan iterasi rataan geometri (geomean approach). Sebenarnya metode eksak untuk menghitung bobot AHP didasarkan dengan perhitungan nilai Eigen dari matriks. Akan tetapi, perhitungan nilai Eigen akan menghasilkan programa nonlinear yang cukup kompleks (untuk jumlah item lebih dari dua). Sementara itu, berdasarkan teorema, perhitungan iterasi rataan geometri ini akan secara konvergen menuju hasil yang didapatkan dengan metode nilai Eigen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar